HALSEL | FAKTAMERAH.COM — Aktivitas penambangan kayu yang dilakukan PT Telaga Bakti Persada di sekitar Desa Wayalor, Kabupaten Halmahera Selatan, kembali menjadi perhatian masyarakat setempat. Warga menilai, meski perusahaan tersebut telah beroperasi selama kurang lebih 30 tahun, hingga kini belum ada manfaat nyata yang dirasakan oleh masyarakat desa, sementara kondisi hutan terus mengalami penurunan.
Sejumlah warga menyampaikan bahwa kawasan hutan yang saat ini dimanfaatkan perusahaan merupakan hutan yang selama ini dijaga dan dilindungi oleh masyarakat Wayalor secara turun-temurun. Namun, hasil dari pemanfaatan sumber daya alam tersebut dinilai tidak berdampak langsung terhadap kesejahteraan warga.
“Perusahaan sudah hampir 30 tahun beroperasi, tetapi kami sebagai warga desa tidak pernah merasakan manfaatnya. Padahal hutan itu selama ini kami jaga,” ujar salah satu warga Wayalor.
Warga menilai, keberadaan perusahaan semestinya dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan desa, baik melalui perbaikan infrastruktur, dukungan pendidikan, maupun program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Namun hingga saat ini, masyarakat menyebut belum ada kejelasan terkait pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan atau program CSR.
Selain itu, masyarakat juga mengeluhkan dampak lingkungan yang dirasakan semakin signifikan. Berkurangnya tutupan hutan diduga menyebabkan meningkatnya risiko banjir dan tanah longsor, yang berdampak pada lahan pertanian serta keselamatan warga.
“Kami mayoritas petani dan sangat bergantung pada alam. Jika hutan rusak, kami yang paling merasakan dampaknya,” kata warga lainnya.
Atas kondisi tersebut, masyarakat Desa Wayalor berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas PT Telaga Bakti Persada, termasuk peninjauan terhadap perizinan serta kewajiban perusahaan dalam menjaga lingkungan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
(Fadli Empe)
![]()
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT






