PROF DR SUTAN NASOMAL: PRESIDEN RI DAN NEGARA TIDAK BOLEH KALAH DENGAN SPEKULASI PENGUSAHA KAYA

- Penulis

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, FAKTAMERAH.com – Presiden Republik Indonesia, Jenderal (Purn) H. Prabowo Subianto, dinilai perlu mengambil langkah strategis dan tegas agar negara tidak kalah oleh spekulasi para pengusaha kaya yang dinilai tidak berkontribusi optimal terhadap perekonomian nasional.
Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, S.E., S.H., M.H., Pakar Hukum Internasional dan Ekonom Nasional, saat menjawab pertanyaan para pemimpin redaksi media cetak dan daring, baik dalam maupun luar negeri, di Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka, Jakarta, Selasa (14/1/2026).
Menurut Prof. Sutan, Presiden RI perlu mempertimbangkan penerbitan Keputusan Presiden (Keppres) yang mendorong para orang kaya di Indonesia agar secara aktif membantu pemerintah menciptakan lapangan kerja, baik melalui pengembangan usaha yang sudah ada maupun dengan membuka terobosan usaha baru.
“Selama ini beban pengangguran terlalu banyak ditanggung negara. Padahal, para pengusaha kaya memiliki peran besar untuk ikut menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi nasional,” ujar Prof. Sutan.
Ia menilai perputaran ekonomi di pasar-pasar Indonesia sangat bergantung pada belanja kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi. Namun dalam praktiknya, banyak orang kaya justru memilih menumpuk uang di rekening, berburu dolar AS, emas, atau saham, serta membelanjakan kekayaannya di luar negeri.
“Uang mereka tidak diputar di dalam negeri. Mereka mencari keuntungan besar di Indonesia, tetapi setelah kaya justru menghabiskan uangnya di luar negeri. Ini tidak sehat bagi ekonomi nasional,” tegasnya.
Prof. Sutan menilai negara tidak boleh kalah strategi. Pemerintah, kata dia, harus menyiapkan “ruang atau kamar khusus” agar para pengusaha kaya merasa aman dan nyaman membelanjakan serta mengembangkan kekayaannya di Indonesia, bukan malah membawa modal ke luar negeri.
“Para menteri harus bekerja keras. Jika para pengusaha kaya tidak merasa nyaman berusaha di Indonesia, maka negara harus menyiapkan strategi agar mereka tetap satu kamar dengan kepentingan nasional,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Sutan mengingatkan pemerintah untuk melihat kondisi ekonomi dari dua sisi. Di satu sisi, nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS telah mendorong kenaikan harga barang kebutuhan pokok, sehingga sangat memberatkan masyarakat.
“Uang Rp1 juta di tahun 2026 nilainya hampir sama dengan Rp300 ribu di tahun 2005 jika digunakan untuk kebutuhan hidup. Nilainya besar secara nominal, tetapi daya belinya sangat kecil,” ungkapnya.
Ia menambahkan, jika para orang kaya mau membelanjakan kekayaannya di dalam negeri, maka putaran ekonomi akan kembali bergerak dan berangsur sehat. Sebaliknya, jika negara hanya memberikan kemudahan dan pembiayaan besar kepada pengusaha, sementara hasilnya dinikmati di luar negeri, maka ekonomi nasional justru akan semakin rapuh.
Prof. Sutan juga menyoroti kondisi masyarakat kelas menengah yang saat ini semakin tertekan. Banyak di antara mereka tidak lagi memiliki tabungan dan terjerat utang pinjaman online (pinjol) hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
“Penghasilan bulanan masyarakat tidak lagi sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Selama lebih dari 11 tahun, kondisi ini terus terjadi dan memiskinkan masyarakat secara luas,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut telah mengarah pada super krisis sosial-ekonomi. Banyak keluarga kini hanya mampu makan nasi dan mi instan dua kali sehari tanpa lauk pauk bergizi.
“Apa iya masyarakat harus makan mi instan pagi, siang, dan malam? Ini kondisi yang sangat memprihatinkan,” ujar Prof. Sutan.
Di tengah kondisi tersebut, ia menilai ironi justru terjadi ketika kekayaan segelintir orang terus menumpuk, sementara penderitaan masyarakat dan masa depan ekonomi bangsa kurang menjadi perhatian.
“Presiden dan negara tidak boleh kalah. Kekuatan ekonomi nasional harus dikendalikan untuk kepentingan rakyat dan masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Narasumber:
Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, S.E., S.H., M.H.
Pakar Hukum Internasional & Ekonom Nasional

Baca Juga:  Serikat Pedagang Pasar Pa’baeng-Baeng, Juru Parkir, dan Pedagang Terminal Daya Gelar Aksi di DPRD Makassar

(Ridwan)

Loading

ADVERTISEMENT

google.com, pub-4845885741970817, DIRECT, f08c47fec0942fa0

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel faktamerah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

GKTMTB Tegaskan Hak Kelola Perhutanan Sosial Harus Dilindungi Negara
Masyarakat Rajeg Segera Nikmati Akses Air Bersih, PERUMDAM TKR Wujudkan Pemerataan Layanan di Kabupaten Tangerang
Kandang Berkah Aarkun di Serang Jual Sapi Qurban Bobot Target 1,5 Ton
PT Krakatau Osaka Steel Tutup Permanen, Industri Baja Nasional Kian Tertekan
UMKM Binaan Persit PD II Sriwijaya Siap Ramaikan Event Nasional
Semangat Kemanusiaan Mengalir di JNE, Aksi Donor Darah Kolaborasi HSE Security dan PMI Jadi Sorotan
Pangdam XIV/Hasanuddin Bangun Koperasi Merah Putih di Takalar, Dongkrak Ekonomi Rakyat
Camat Gambir Hadiri Launching Koperasi Merah Putih Duri Pulo, Dorong Ekonomi Warga
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 06:47 WIB

GKTMTB Tegaskan Hak Kelola Perhutanan Sosial Harus Dilindungi Negara

Senin, 25 Mei 2026 - 02:50 WIB

Masyarakat Rajeg Segera Nikmati Akses Air Bersih, PERUMDAM TKR Wujudkan Pemerataan Layanan di Kabupaten Tangerang

Jumat, 22 Mei 2026 - 10:16 WIB

Kandang Berkah Aarkun di Serang Jual Sapi Qurban Bobot Target 1,5 Ton

Rabu, 13 Mei 2026 - 22:44 WIB

PT Krakatau Osaka Steel Tutup Permanen, Industri Baja Nasional Kian Tertekan

Kamis, 30 April 2026 - 10:02 WIB

UMKM Binaan Persit PD II Sriwijaya Siap Ramaikan Event Nasional

Berita Terbaru