Prof Sutan Nasomal: Presiden RI Perlu Siaga Satu, Memanasnya Jepang–China Berpotensi Mengancam Stabilitas Kawasan

- Penulis

Jumat, 21 November 2025 - 03:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, faktamerah.com – Memanasnya tensi geopolitik antara Jepang dan China disebut menjadi alarm penting bagi Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan nasional. Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH, pakar hukum internasional sekaligus ekonom nasional, saat menjawab pertanyaan para pemimpin redaksi media dalam dan luar negeri, Jumat (21/11/2025).

Menurut Prof Sutan, perkembangan situasi keamanan di kawasan Asia Timur yang menunjukkan tanda-tanda kesiapan perang harus menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia.

“Dengan suhu konflik yang terus meningkat, Presiden RI perlu menyiapkan status siaga satu. Saya berharap Yang Terhormat Bapak Prabowo Subianto segera memerintahkan Panglima TNI, Kapolri, dan Menlu untuk memantau perkembangan global 24 jam penuh,” ujarnya melalui sambungan telepon.

ADVERTISEMENT

google.com, pub-4845885741970817, DIRECT, f08c47fec0942fa0

SCROLL TO RESUME CONTENT


Jepang–China Saling Tarik Warganya, Dunia Internasional Waspada

Prof Sutan menjelaskan bahwa langkah Jepang meningkatkan kesiagaan militernya terhadap China dan memerintahkan warganya untuk meninggalkan wilayah China telah memicu perhatian dunia internasional. Hal serupa dilakukan China terhadap warga negaranya yang berada di Jepang.

“Kedua negara meminta warganya keluar secepat mungkin. Ini pertanda bahwa kemungkinan perang terbuka dalam beberapa hari atau minggu ke depan tidak dapat diabaikan,” jelasnya.


Kekuatan Militer China Diunggulkan, Jepang Tetap Berbahaya

Prof Sutan menilai bahwa secara kekuatan militer, China memiliki keunggulan. Terlebih lagi, dalam potensi konflik, China diperkirakan akan mendapat dukungan dari Korea Utara dan Rusia.

Meski demikian, Jepang tidak dapat dipandang remeh. Negeri Sakura memiliki pengalaman historis panjang di bidang militer dan teknologi persenjataan yang maju.

“Jepang pernah memenangkan perang melawan China di era sebelumnya. Pengalaman traumatis terhadap bom atom dari Amerika justru membuat Jepang mengembangkan teknologi militer yang sangat canggih,” ujarnya.


Potensi Keterlibatan Negara Nuklir

Baca Juga:  KPK memastikan lahan Meikarta bebas masalah hukum dan layak digunakan untuk rusun subsidi.

Prof Sutan memaparkan bahwa perang Jepang–China bisa berkembang menjadi konflik besar yang melibatkan negara pemilik senjata nuklir, terutama Amerika Serikat dan Rusia.

Ia menyebut faktor lain yang mengkhawatirkan: stok persenjataan global telah terkuras akibat perang di Gaza–Israel serta perang Rusia–Ukraina. Menurutnya, jika Jepang dan China berperang, maka situasi dunia bisa memasuki “puncak unjuk kekuatan militer”.

“Perang nuklir di tahun 2026 adalah skenario yang sudah dibaca banyak pakar strategi global. Kemungkinan keterlibatan Korea Utara, Korea Selatan, Rusia, dan Amerika sangat besar bila konflik meledak,” tegasnya.


Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Pergerakan Armada Dunia

Sebagai negara dengan posisi strategis di jalur Samudra Hindia dan Pasifik, Prof Sutan memperingatkan bahwa wilayah Indonesia sangat mungkin dijadikan jalur atau pangkalan logistik oleh kekuatan global.

“Samudra Indonesia bisa menjadi terminal kapal selam dan kapal induk dunia. Pulau-pulau Indonesia berpotensi dijadikan lokasi transit dan logistik oleh negara-negara besar,” ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa Taiwan kini berada dalam posisi seperti Palestina—berpotensi menjadi ajang konflik kekuatan Barat dan Timur.


Seruan Kepada Pemerintah RI

Prof Sutan menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto harus segera mengambil langkah antisipatif melalui penguatan militer, diplomasi aktif, serta peningkatan kesiapsiagaan nasional.

“Kekuatan militer Indonesia harus disiapkan mulai sekarang. Kita tidak boleh menunggu hingga situasi memburuk di kawasan,” katanya menutup pernyataan.


Narasumber:

Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH – Pakar Hukum Internasional

Penulis:

Baihaki Khaizan Achmads
Kepala Perwakilan DKI Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel faktamerah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hari Lahir Pancasila 2026, Jurnalis Diajak Jadi Garda Terdepan Penjaga Persatuan Bangsa
Hari Lahir Pancasila 2026, Pimpinan Redaksi FaktaMerah.com Tegaskan Komitmen Menjaga Persatuan dan Nilai Kebangsaan
Kapolres Bulukumba AKBP Restu Wijayanto, S.I.K. Ucapkan Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026
Jenazah Ryamizard Ryacudu Disalatkan di Rumah Duka, Keluarga dan Kerabat Berikan Penghormatan Terakhir
Ketua KAKI Jatim: KPK Terbitkan SE Gratifikasi SPMB, Cegah Praktik Gratifikasi dan Pungli Dalam Proses Penerimaan Siswa Baru
GKTMTB Tegaskan Hak Kelola Perhutanan Sosial Harus Dilindungi Negara
Negara Hadir untuk Rakyat, Pangdam XIV/Hsn Tunjukkan Akselerasi Pembangunan Koperasi Merah Putih Tercepat di Luar Jawa
JANGAN TERJEBAK PERANG NARASI, MENGUJI KETEGASAN NEGARA DI BALIK SERANGAN TERHADAP BEA CUKAI
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 18:43 WIB

Hari Lahir Pancasila 2026, Jurnalis Diajak Jadi Garda Terdepan Penjaga Persatuan Bangsa

Senin, 1 Juni 2026 - 15:03 WIB

Hari Lahir Pancasila 2026, Pimpinan Redaksi FaktaMerah.com Tegaskan Komitmen Menjaga Persatuan dan Nilai Kebangsaan

Minggu, 31 Mei 2026 - 16:28 WIB

Jenazah Ryamizard Ryacudu Disalatkan di Rumah Duka, Keluarga dan Kerabat Berikan Penghormatan Terakhir

Minggu, 31 Mei 2026 - 09:15 WIB

Ketua KAKI Jatim: KPK Terbitkan SE Gratifikasi SPMB, Cegah Praktik Gratifikasi dan Pungli Dalam Proses Penerimaan Siswa Baru

Minggu, 31 Mei 2026 - 06:47 WIB

GKTMTB Tegaskan Hak Kelola Perhutanan Sosial Harus Dilindungi Negara

Berita Terbaru