Faktamerah — Makassar, Sulawesi Selatan.
Di balik setiap pukulan yang menggema di ring tinju, selalu ada kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta terhadap tanah kelahiran. Bagi Eriko Kevin Keygen Amanupunyo, atau akrab disapa Riko, tinju bukan sekadar cabang olahraga—melainkan jalan hidup yang ia jalani dengan seluruh jiwa.
Namun siapa sangka, perjalanan panjang untuk mengharumkan nama Sulawesi Selatan justru berakhir getir. Riko pulang bukan dengan tepuk tangan, melainkan luka batin dan penghargaan yang tak kunjung datang.
Dari Palangkaraya ke Bangkok: Jejak Emas Sang Juara
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Riko mengenal ring tinju sejak usia remaja. Tahun 1996 di Palangkaraya, ia menggenggam medali emas pertamanya. Prestasi itu kemudian menjadi babak awal dari deretan kemenangan yang ia ukir di berbagai daerah: Manado, Jakarta, Gorontalo, Surabaya, hingga Ambon.
Tak hanya berhenti di level nasional, karier Riko meroket hingga kancah internasional.
King’s Cup Thailand 2007 — Medali Perunggu
SEA Games Laos 2009 — Prestasi Membanggakan
Nama “Eriko Kevin” berkali-kali disebut komentator olahraga nasional sebagai “anak Sulsel yang tak kenal menyerah.”
Namun kejayaan itu seolah hilang ditelan angin.
Ketika pulang dari SEA Games Myanmar 2013, tak ada penyambutan, tak ada apresiasi.
“Dulu disambut dengan spanduk dan pelukan. Tapi waktu pulang dari Myanmar, tak satu pun pejabat KONI atau Dispora datang. Seakan saya tak pernah ada,” kenangnya sambil menatap piagam yang mulai menguning.
Jadi ASN, Tapi Tak Pernah Dihargai
Pada 2011, Riko diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dispora Sulawesi Selatan. Status itu bukan hadiah, melainkan bentuk dedikasi baru untuk tetap mengabdi di dunia olahraga.
Namun, karier birokrasi ternyata jauh lebih keras daripada ring tinju.
Pada 2014, ia mengajukan permohonan pindah tugas. Proses sederhana itu justru menjadi awal penderitaan panjang.
“Semua berkas saya setor ke Kasubag. Tapi tidak pernah diproses. Seolah berkas saya diletakkan di bawah meja,” tuturnya.
Masalah tak berhenti di situ. Gajinya kemudian diblokir, meski ia telah menjalani seluruh sanksi administrasi dan kembali hadir setiap hari sesuai ketentuan.
“Saya tidak tahu kesalahan saya apa. Saya hanya ingin diperlakukan adil,” ujarnya.
Bertemu Kadispora: Harapan yang Kembali Patah
Juni 2024, sebuah pertemuan tak disengaja terjadi. Di sebuah apotek di Makassar, Riko bertemu H. Herman, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sulawesi Selatan.
Dengan penuh hormat, Riko menanyakan nasib berkasnya, status gajinya, dan haknya sebagai ASN sekaligus mantan atlet nasional.
Namun jawaban yang ia terima justru menghantam batinnya lebih keras daripada pukulan di ring.
“Masih mending itu Papua karena masih NKRI. Ada juga Hairullah yang mewakili Brunei Darussalam, itu lebih pengkhianat,” kata sang Kadis, sebagaimana ditirukan Riko.
Kata “pengkhianat” itu mencabik hati seorang atlet yang telah memberikan segalanya untuk daerahnya.
“Saya bukan pengkhianat. Saya hanya ingin dihargai di tanah tempat saya berjuang,” ucapnya lirih.
Suara Hukum: Ada Pelanggaran yang Diabaikan
Pengamat hukum olahraga Sulawesi Selatan, Aswandi Hijrah, S.H., M.H., menilai kasus yang menimpa Riko merupakan gambaran lemahnya implementasi UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.
“Ketika hak seorang atlet berprestasi dan ASN tidak dihormati, itu bukan sekadar kelalaian administratif, tetapi pelanggaran etika publik dan hukum kepegawaian,” tegasnya.
Menurutnya, negara tidak boleh hadir hanya saat atlet mengibarkan bendera dan berdiri di podium, tetapi juga ketika mereka kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
“Jika pemerintah abai, jangan salahkan jika mereka mencari tempat yang bisa menghargai jasanya,” ujarnya.
Berjuang Tanpa Ring
Kini Riko sudah tidak lagi berkompetisi di atas ring. Namun semangat tarungnya tetap menyala.
Ia melatih anak-anak muda Makassar yang bercita-cita menjadi petinju. Sarung tinju yang ia gunakan sudah mulai robek, tapi semangatnya masih utuh.
“Saya tidak ingin mereka mengalami nasib yang sama. Tinju bukan hanya soal memukul, tapi bertahan saat hidup tidak adil,” ucapnya.
Di sela latihan, ia kadang menatap medali-medali yang mulai berkarat namun tetap berkilau di hatinya.
“Dulu saya bertinju untuk mengharumkan nama Sulsel. Sekarang saya bertinju melawan lupa,” katanya.
Harapan yang Belum Padam
Meski tak lagi berada di panggung utama, Riko yakin suatu hari nanti pemerintah daerah akan membuka mata dan menghargai para atlet yang telah berjuang mengibarkan nama Sulawesi Selatan.
“Tinju mengajarkan saya bahwa jatuh itu biasa. Tapi menyerah? Itu pilihan,” tegasnya.
Penutup: Mengingat yang Dilupakan
Kisah Eriko Kevin bukan sekadar cerita tentang seorang petinju. Ini adalah cermin tentang bagaimana bangsa memperlakukan pahlawannya.
Ia memberikan waktu, tenaga, dan kesehatan demi daerah. Tetapi yang ia dapatkan justru kesepian, blokir gaji, dan ucapan yang melukai hati.
Ketika pejabat sibuk bicara soal prestasi dan medali, mungkin mereka lupa:
Di balik setiap kemenangan, ada sosok seperti Riko — yang masih menunggu ucapan terima kasih dari tanah yang ia bela.
( Setiawan )







