JAKARTA, FAKTAMERAH.COM – Wajah kawasan Glodok, Jakarta Barat, kembali menuai sorotan. Trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki kini berubah fungsi menjadi lapak pedagang kaki lima (PKL) dan kantong parkir liar sepeda motor. Akibatnya, warga terpaksa turun ke badan jalan dan berjibaku dengan arus kendaraan yang padat.
Pantauan di lokasi, lapak-lapak pedagang berdiri memakan hampir seluruh badan trotoar. Di sisi lain, deretan sepeda motor terparkir tanpa aturan, mempersempit ruang gerak masyarakat yang hendak melintas. Kondisi ini semakin parah ketika kawasan ramai pengunjung, terutama menjelang perayaan Imlek.
Hendra (56), salah satu warga yang ditemui pada Senin (16/2/2026), mengaku resah dengan kondisi tersebut. Ia menilai trotoar di Glodok kini tak lagi ramah bagi pejalan kaki.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Terus terang memang sudah tidak nyaman buat pejalan kaki. Trotoarnya banyak dipakai pedagang dan motor parkir. Jadi orang jalan harus turun ke badan jalan,” ujar Hendra.
Menurutnya, ia biasanya datang ke Glodok saat momen tertentu, seperti menjelang Imlek untuk membeli perlengkapan dan makanan khas. Namun setiap kali berkunjung, ia selalu dihadapkan pada persoalan yang sama: trotoar yang ‘hilang’ fungsinya.
Situasi ini bukan hanya soal ketidaknyamanan, tetapi juga menyangkut keselamatan. Pejalan kaki, termasuk lansia dan anak-anak, harus berjalan di antara kendaraan yang melintas. Risiko terserempet atau tertabrak pun mengintai setiap saat.
Warga mendesak Pemerintah Kota Jakarta Barat dan instansi terkait untuk segera melakukan penertiban dan penataan ulang. Trotoar, tegas mereka, bukan ruang kompromi, melainkan hak dasar pejalan kaki yang wajib dilindungi.
Jika dibiarkan, Glodok yang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan legendaris di Ibu Kota justru tercoreng oleh semrawutnya penataan. Warga berharap ada langkah tegas agar kawasan tersebut kembali tertib, aman, dan nyaman bagi semua.
![]()






