Jakarta, Faktamerah.com — Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri pemusnahan barang bukti 214,48 ton narkoba hasil pengungkapan kasus selama satu tahun terakhir di Mabes Polri, Jakarta. Dalam acara tersebut, Prabowo memberikan pidato di hadapan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan jajaran kepolisian.
Instruksi Khusus kepada Kapolri
Dalam pidatonya, Prabowo mengungkapkan tiga instruksi khusus yang ia berikan kepada Kapolri sejak menjabat pada 20 Oktober 2024. Tiga hal tersebut yakni pemberantasan narkoba, penyelundupan, dan judi online.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya minta Kapolri memimpin tiga hal untuk saya: pemberantasan narkoba, penyelundupan, dan judi online,” ujar Prabowo.
Prabowo menegaskan bahwa peredaran narkoba merupakan ancaman serius bagi masa depan bangsa. Ia pun mengapresiasi kerja keras Polri dalam mengungkap kasus dengan barang bukti mencapai 214,84 ton.
“Nilai uangnya mencapai Rp29,37 triliun. Jika tidak berhasil dicegah, jumlah itu bisa digunakan oleh 629 juta manusia — lebih dari dua kali jumlah penduduk Indonesia,” kata Prabowo.
Serukan Persatuan Bangsa
Prabowo juga menyerukan pentingnya persatuan nasional pasca kontestasi politik. Ia mengingatkan agar perbedaan politik tidak memperpanjang konflik dan perpecahan di masyarakat.
“Jangan kita teruskan kebencian atau kecurigaan. Rakyat butuh pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik,” tegasnya.
Menurut Prabowo, energi bangsa seharusnya difokuskan untuk membangun kesejahteraan rakyat, bukan untuk mempertahankan rivalitas politik.
Kartel Narkoba Semakin Canggih
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga mengungkapkan bahwa kartel narkoba kini semakin canggih, bahkan memiliki kapal selam untuk mengedarkan barang haram tersebut.
“Sekarang ada modus kartel narkoba punya kapal selam sendiri,” ungkapnya.
Ia menegaskan pentingnya kerja sama lintas lembaga dalam pemberantasan narkoba.
“Polisi harus sigap, kompak, bekerja sama dengan TNI, Bea Cukai, Kejaksaan, semua lembaga harus menjadi satu tim. Kita satu korps, korps merah putih, korps NKRI,” tutur Prabowo.
Tepis Tuduhan Otoriter
Menutup pidatonya, Prabowo juga menanggapi tuduhan yang menyebut dirinya sebagai pemimpin otoriter. Ia mengaku sering menonton podcast yang mengkritiknya dan menjadikannya bahan introspeksi.
“Kadang saya buka podcast, lalu berpikir: apa iya saya otoriter? Rasanya enggak sih,” ucapnya sambil tersenyum.
Meski merasa kesal atas tudingan tersebut, Prabowo menyebut kritik adalah bagian penting dalam proses menjadi pemimpin yang lebih baik.
“Saya catat semua sebagai bahan introspeksi. Dalam pengabdian kepada bangsa dan negara, tidak boleh diikuti rasa sakit hati,” tutupnya.
( Setiawan )






