Amerika “Dikepung Tanpa Perang”, Indonesia Diminta Waspada Hadapi Ancaman Baru

- Penulis

Sabtu, 4 April 2026 - 08:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUKABUMI, FAKTAMERAH.COM – Dinamika konflik global antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan. Namun di balik eskalasi yang tampak di permukaan, muncul analisis yang menyebut bahwa Amerika sejatinya tengah “dikepung tanpa perang”.

Pandangan ini disampaikan oleh Mayjen TNI (Purn.) Fulad, mantan Penasihat Militer Republik Indonesia untuk PBB di New York (2017–2019), yang kini mengamati perkembangan geopolitik dari kawasan Geopark Ciletuh, Sukabumi.

Menurut Fulad, pola konflik modern telah berubah secara fundamental. Ia menilai Iran tidak menghadapi Amerika secara langsung, melainkan membangun tekanan strategis berlapis yang membuat keunggulan militer konvensional Amerika menjadi kurang efektif.

ADVERTISEMENT

google.com, pub-7869183682739582, DIRECT, f08c47fec0942fa0

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Iran menciptakan medan pertempuran baru, di mana kekuatan militer konvensional Amerika menjadi tidak relevan,” ujarnya.

Fulad kemudian menguraikan enam bentuk tekanan strategis yang ia sebut sebagai “pengepungan tanpa perang”:

Pertama, Iran menguasai pintu minyak: Selat Hormuz.
Sekitar 20 juta barel minyak melewati selat ini setiap hari. Iran tidak perlu menutup total—cukup mengganggu. Dampaknya, harga minyak melonjak, biaya perang Amerika membengkak, dan tekanan politik di dalam negeri meningkat.

Kedua—dan ini yang paling “genius”—Iran menyerang air.
Negara-negara Teluk seperti Dubai, Bahrain, dan Arab Saudi sangat bergantung pada pabrik desalinasi hingga sekitar 60% pasokan air. Satu drone murah berpotensi melumpuhkan satu fasilitas vital.

“Bayangkan, satu pabrik yang menyuplai jutaan orang hancur dalam hitungan menit. Dua minggu kemudian, kota bisa kehabisan air. Ini bukan lagi perang senjata, tetapi perang atas kebutuhan dasar manusia,” jelas Fulad.

Ketiga, Iran tidak melawan kekuatan udara Amerika secara langsung.
Iran menggunakan konsep mosaic defense, yakni pertahanan yang tersebar. Drone murah dihadapkan pada sistem pertahanan mahal seperti rudal Patriot, menciptakan ketidakseimbangan biaya yang merugikan pihak lawan.

Keempat, Iran memiliki jaringan.
Kelompok seperti Hezbollah di Lebanon, Houthi di Yaman, milisi di Irak, hingga Hamas di Gaza menjadi bagian dari jaringan yang memperluas medan konflik. Satu perang berubah menjadi banyak front kecil yang menguras perhatian dan sumber daya.

Baca Juga:  PROF. DR. SUTAN NASOMAL: KETEGANGAN GLOBAL MENINGKAT, PRESIDEN RI DIMINTA WASPADA DINAMIKA GEO-POLITIK DUNIA

Kelima, Iran memenangkan narasi global.
Di berbagai forum internasional, Iran berhasil membangun citra sebagai pihak yang mempertahankan kedaulatan. Hal ini mendorong perubahan persepsi global terhadap konflik yang terjadi.

Keenam—ironisnya—serangan Amerika justru menyatukan Iran.
Sebelum konflik, Iran menghadapi berbagai tekanan internal. Namun ketika ancaman datang dari luar, masyarakat justru bersatu. Fenomena ini, menurut Fulad, merupakan pola klasik yang kerap diabaikan dalam strategi perang.

“Perang hari ini bukan hanya soal senjata, tetapi juga tentang energi, air, ekonomi, dan opini publik,” tegasnya.

Penguatan Perspektif Keamanan dan Informasi
Sementara itu, Kombes Pol. Hendra Rochmawan, S.I.K., M.H., Kabid Humas Polda Jawa Barat menilai bahwa analisis tersebut penting untuk dipahami masyarakat luas, khususnya dalam memperkuat ketahanan nasional.

Menurut Hendra, ancaman modern tidak selalu hadir dalam bentuk fisik, tetapi juga melalui informasi dan persepsi.

“Apa yang disampaikan Mayjen Fulad menunjukkan bahwa ancaman saat ini memiliki dimensi yang lebih kompleks, termasuk informasi dan persepsi publik,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026)

Ia menambahkan bahwa di era digital, penyebaran informasi yang cepat dapat memengaruhi stabilitas. Oleh karena itu, komunikasi publik yang akurat menjadi sangat penting.

“Pemahaman yang benar akan membantu masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh disinformasi,” jelasnya.

Pelajaran Strategis bagi Indonesia
Baik Fulad maupun Hendra sepakat bahwa perubahan pola konflik global membawa pelajaran penting bagi Indonesia.

Fulad menekankan pentingnya ketahanan pada sektor dasar seperti air, pangan, dan energi, serta perlindungan terhadap infrastruktur vital.

Sementara itu, Hendra menyoroti kesiapan menghadapi ancaman non-konvensional, termasuk serangan siber dan gangguan terhadap sistem informasi.

“Ketahanan nasional saat ini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman baru,” ujarnya.

Dijelaskan, dunia tengah memasuki era baru, di mana perang tidak selalu hadir dalam bentuk konvensional.

Tekanan dapat datang secara perlahan melalui jalur ekonomi, infrastruktur, dan informasi.

Dalam situasi tersebut, Indonesia dituntut untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat ketahanan nasional secara menyeluruh.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel faktamerah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Momentum HUT-RI Ke-81, DPP AWII Tegaskan Komitmen Pengawalan Pers yang Independen dan Merdeka
Perang Iran vs Israel Memanas, Prof Sutan Nasomal Peringatkan Ancaman Kelaparan Global
Prof Sutan Nasomal Desak Presiden Prabowo Tekan Israel Akui Kemerdekaan Palestina
Prof Dr Sutan Nasomal Kutuk Penggunaan Senjata Termobarik, Serukan Presiden Prabowo Siagakan Kekuatan Pertahanan
PROF. DR. SUTAN NASOMAL: KETEGANGAN GLOBAL MENINGKAT, PRESIDEN RI DIMINTA WASPADA DINAMIKA GEO-POLITIK DUNIA
Mengangkat Budaya dan Kuliner Indonesia melalui Acara Pelajar di Luar Negeri
Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup
The Latest News in R&B Music: A Look at Super Bowl Performances, New Albums, Rising Stars, and Tribute to Aaliyah
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 06:49 WIB

Momentum HUT-RI Ke-81, DPP AWII Tegaskan Komitmen Pengawalan Pers yang Independen dan Merdeka

Sabtu, 4 April 2026 - 08:50 WIB

Amerika “Dikepung Tanpa Perang”, Indonesia Diminta Waspada Hadapi Ancaman Baru

Kamis, 2 April 2026 - 13:52 WIB

Perang Iran vs Israel Memanas, Prof Sutan Nasomal Peringatkan Ancaman Kelaparan Global

Kamis, 5 Maret 2026 - 03:44 WIB

Prof Sutan Nasomal Desak Presiden Prabowo Tekan Israel Akui Kemerdekaan Palestina

Kamis, 19 Februari 2026 - 04:14 WIB

Prof Dr Sutan Nasomal Kutuk Penggunaan Senjata Termobarik, Serukan Presiden Prabowo Siagakan Kekuatan Pertahanan

Berita Terbaru

Jawa Barat

Polda Jabar Imbau Masyarakat Sampaikan Aspirasi Secara Damai

Selasa, 27 Okt 2026 - 10:58 WIB

Infrastruktur

Proyek Pipa PAM Jaya di Lubang Buaya Ditargetkan Rampung Januari 2027

Selasa, 27 Okt 2026 - 08:40 WIB