JAKARTA, faktamerah.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mendekati Rp17.000 per dolar AS. Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai kondisi ini dipicu ketidakseimbangan pasokan dan permintaan valas di dalam negeri.
Ia mendorong Bank Indonesia (BI) memperkuat pasokan dolar di pasar domestik, termasuk mendorong eksportir mengonversi devisa hasil ekspor ke rupiah. Padahal, pelemahan terjadi di tengah surplus neraca perdagangan dan masuknya aliran modal ke pasar keuangan.
Senada, ekonom Indef M Rizal Taufikurahman menilai stabilisasi rupiah perlu ditempuh melalui kombinasi intervensi pasar spot, instrumen derivatif, dan stabilisasi pasar obligasi. Meski demikian, ia menegaskan pelemahan rupiah saat ini belum mengarah pada sinyal krisis dan lebih dipengaruhi tekanan global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
![]()






