TOMOHON | FAKTAMERAH.COM – Menitipkan rindu pada angin Januari, Keluarga Besar Wehantouw kembali berkumpul untuk mengenang tiga tahun berpulangnya Virendy Marjefy Wehantouw. Almarhum mengembuskan napas terakhirnya dalam tragedi Pendidikan Dasar dan Orientasi Medan (Diksar & Ormed) XXVII UKM Mapala 09 Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin pada awal 2023 silam.
Sebagai bentuk penghormatan dan perawatan ingatan atas jejak hidup yang terhenti prematur, keluarga menggelar ibadah syukur dan peringatan di Desa Woloan II, Kecamatan Tomohon Barat, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara, Sabtu (17/1/2026). Kegiatan berlangsung sejak siang hingga malam hari.
Sekitar seratusan anggota keluarga dari trah Wehantouw hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Jakarta, Makassar, dan Lampung. Selain itu, keluarga dari berbagai wilayah di Sulawesi Utara turut memadati lokasi acara yang berada di kaki Gunung Lokon.
Sanak saudara datang dari Manado, Bitung, Kotamobagu, Tomohon, hingga wilayah-wilayah Minahasa seperti Woloan I, II, dan III, Langowan, Liwutung, Tombatu, Tumpaan, Leilem, Sonder, Taratara, Lolah, Tanawangko, Senduk, Maumbi, serta Kolongan, Minahasa Utara, dan daerah lainnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah syukur yang mengusung tema, “Kenangan Kepada Orang Benar Mendatangkan Berkat” (Amsal 10:7a). Ibadah dipimpin oleh Ketua Jemaat GMIM Ebenhaezer Woloan II, Pdt. Audi Jules Mawikere, M.Th., dan berlangsung dalam suasana khidmat.
Dalam khotbahnya, Pdt. Audi mengutip Amsal 18:10 yang menegaskan bahwa nama Tuhan adalah menara perlindungan bagi mereka yang mencari kebenaran.
“Tuhan yang kita imani senantiasa hadir dalam setiap duka dan pengharapan. Tiga tahun telah berlalu sejak kepergian orang yang kita kasihi, namun penghiburan dan kekuatan dari Tuhan tidak pernah berhenti menyertai,” ujar Pdt. Audi.
Ia juga menyampaikan penguatan iman kepada keluarga, agar tetap berserah dan berharap bahwa pada waktu-Nya, keadilan hukum atas peristiwa yang menimpa almarhum akan menemukan jalannya.
Usai ibadah, sambutan keluarga disampaikan oleh Ir. Harry Wehantouw yang hadir dari Jakarta. Ia mengapresiasi kebersamaan dan solidaritas keluarga besar Wehantouw yang meluangkan waktu dan tenaga untuk hadir mendoakan almarhum.
“Kepergian Virendy kami terima dengan penuh keikhlasan. Kami percaya Tuhan jauh lebih mengasihinya. Namun di tengah penerimaan itu, kami tetap memelihara harapan agar keadilan hukum bagi almarhum dan keluarga yang ditinggalkan dapat terwujud,” ujar Harry dengan nada tegar.
Ia menegaskan bahwa doa dan kebersamaan keluarga menjadi sumber kekuatan utama untuk terus melangkah, sembari menyerahkan proses hukum sepenuhnya kepada mekanisme yang berlaku.
Kegiatan peringatan ini berlangsung di kediaman keluarga Wehantouw, rumah bersejarah peninggalan Prof. Dr. Onde Jimmy Wehantouw, MS. Hadir pula Lurah Woloan II, Jeane Maria Kures, bersama sejumlah tokoh masyarakat setempat.
Acara ditutup dengan santap siang bersama dalam suasana kekeluargaan, diiringi alunan musik dan lagu-lagu rohani. Momen kebersamaan tersebut kemudian diabadikan melalui sesi dokumentasi keluarga, sebagai penanda ikatan persaudaraan yang tetap terjaga di tengah duka dan harapan akan keadilan.
![]()
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT






