Bandung, FaktaMerah.com – Yayasan Pemulihan Natura Indonesia menggelar diskusi dan pertukaran pengetahuan internasasional bertajuk “Evidence-Based Practice in Substance Abuse Treatment in Indonesia: A Collaborative Perspective” sebagai upaya memperkuat layanan rehabilitasi berbasis bukti dalam penanganan adiksi di Indonesia.
Kegiatan yang dipimpin Ketua Yayasan Pemulihan Natura Indonesia, Ferdy Gunawan, tersebut berlangsung di Ultra Bandung Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat, pada Jumat (3/7/2026), dan dihadiri delegasi RMIT Colleagues Australia – Psychology and Social Inclusion.
Diskusi menghadirkan narasumber Sam Nugroho selaku Pembina IKAI Jawa Barat, dr. Lia yang mewakili BNNP Jawa Barat, serta Alif Ryan Wijaya selaku General Manager Yayasan Pemulihan Natura Indonesia. Turut hadir perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Bandung Barat, lembaga rehabilitasi, organisasi masyarakat sipil, serta sejumlah mitra di bidang kesehatan dan sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam forum tersebut, para peserta membahas penerapan praktik berbasis bukti (evidence-based practice) dalam penanganan penyalahgunaan zat, berbagai tantangan penyelenggaraan layanan rehabilitasi di Indonesia, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor dan kerja sama internasional guna mendukung proses pemulihan yang berkelanjutan.
Ketua Yayasan Pemulihan Natura Indonesia, Ferdy Gunawan, menegaskan bahwa penanganan penyalahgunaan zat dan persoalan kesehatan mental tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan.
Ia berharap forum ini menjadi langkah awal dalam memperluas jejaring kerja sama, sehingga pengembangan layanan rehabilitasi di Indonesia semakin berkualitas, profesional, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
GMOCT Berikan Apresiasi
Ketua Umum Gabungan Media Online dan Cetak Ternama (GMOCT), Agung Sulistio, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Langkah Yayasan Pemulihan Natura Indonesia menjalin kolaborasi dengan institusi internasional serta mengedepankan pendekatan berbasis bukti sangat patut didukung. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan masalah adiksi memerlukan pendekatan profesional, ilmiah, dan saling melengkapi antarlembaga. Semoga kerja sama ini terus berlanjut dan semakin banyak masyarakat yang terbantu untuk pulih dan kembali berdaya,” ujar Agung.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir berbagai inovasi dan penguatan layanan rehabilitasi yang semakin berkualitas, inklusif, serta mampu memberikan harapan baru dan meningkatkan kualitas hidup individu yang menjalani proses pemulihan dari penyalahgunaan zat.
(Levi)
![]()






