KUPANG, FAKTAMERAH.COM – Asten Bait kembali menyerukan pentingnya semangat perubahan melalui pendidikan saat hadir sebagai motivator di SMA Nusa Timor, Desa Kiuoni, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Selasa (14/4/2026).
Dalam kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut, Asten menegaskan bahwa pendidikan harus terus digaungkan hingga ke pelosok daerah agar dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda di wilayah pedalaman.
Menurutnya, wacana perubahan yang sering digaungkan, baik di tingkat nasional maupun daerah, harus diiringi dengan upaya nyata dalam mendorong motivasi pendidikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Perubahan tidak cukup hanya disuarakan, tetapi harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap pendidikan sesama,” kata ia melalui keterangan tertulisnya.
Asten menekankan bahwa pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara yang wajib dipenuhi oleh negara. Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk saling mendorong agar anak-anak desa memiliki semangat dan akses yang sama terhadap pendidikan.
Dalam sesi diskusi bersama siswa-siswi, ia juga membakar semangat generasi muda dengan menegaskan bahwa masa depan bangsa berada di tangan pemuda saat ini. Ia mengingatkan bahwa tanpa pendidikan, generasi muda akan kesulitan bersaing di masa depan.
“Anak desa tidak boleh kalah dengan mereka yang berada di kota” ujarnya.
Keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang, karena pendidikan saat ini terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kunci keberhasilan terletak pada tekad yang kuat, semangat perubahan, serta kesadaran akan jati diri dan asal-usul. Menurutnya, pemahaman tersebut akan menjadi sumber motivasi dalam meraih cita-cita.
Selain memberikan motivasi, Asten juga meninjau kondisi SD Negeri Saijaob yang berada tidak jauh dari lokasi kegiatan. Ia menemukan bahwa kondisi sekolah tersebut sangat memprihatinkan, dengan fasilitas yang rusak dan keterbatasan gedung, sehingga kegiatan belajar masih dilakukan di ruang darurat.
Dari hasil diskusi dengan para guru, diketahui bahwa gedung sekolah yang digunakan saat ini dibangun sejak tahun 2010 dan belum mendapatkan perbaikan meskipun sudah mengalami kerusakan. Selain itu, sekolah tersebut juga mengalami kekurangan tenaga pengajar.
Tidak hanya itu, para guru juga mengeluhkan bahwa sekolah mereka belum tersentuh program pemerintah pusat, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi serupa, kata Asten, juga terjadi di beberapa sekolah lain seperti SD Negeri Tuapukan di Desa Ekateta.
Menanggapi kondisi tersebut, Asten menyayangkan minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap sektor pendidikan. Ia menilai anggaran daerah masih banyak digunakan untuk kegiatan seremonial, sementara kebutuhan dasar pendidikan belum terpenuhi secara optimal.
“Pendidikan adalah hak dasar masyarakat yang telah dijamin dalam konstitusi. Karena itu, pemerintah daerah harus memiliki keberpihakan yang nyata,” kritiknya.
Ia berharap pemerintah Kabupaten Kupang melalui dinas terkait segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kondisi pendidikan, termasuk penyediaan fasilitas dan tenaga pengajar yang memadai.
Menurutnya, visi besar menjadikan Kabupaten Kupang sebagai daerah maju tidak akan tercapai jika generasi mudanya tidak diperhatikan dengan baik.
Selain persoalan pendidikan, Asten juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan di Desa Kiuoni yang masih memprihatinkan. Ia mendorong adanya keberpihakan anggaran untuk pembangunan di wilayah pedalaman, khususnya di Kecamatan Fatuleu.
“Pendidikan dan infrastruktur adalah fondasi utama kemajuan daerah. Jika keduanya diabaikan, maka sulit bagi masyarakat untuk berkembang,” pungkasnya.
![]()
Penulis : Elfridus Ariyanto Seran






