JAKARTA, faktamerah.com – DPRD DKI Jakarta menegaskan komitmennya untuk mengawal proses relokasi warga yang terdampak pembangunan Flyover (FO) Latumenten, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Anggota DPRD DKI dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, memastikan Pemprov DKI menyiapkan skema pemindahan yang manusiawi dan tidak meninggalkan warga tanpa kepastian.
“Relokasi bukan hal mudah, tetapi warga sudah bisa mengosongkan lahan karena Pemprov DKI telah menyiapkan solusi, termasuk opsi rusun. Warga tidak akan ditinggalkan tanpa kepastian,” ujar Kenneth kepada faktamerah.com, Rabu (2/12/2025).
Sebanyak 17 rumah tercatat akan terdampak pelebaran jalan dalam proyek pembangunan flyover tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kenneth meminta pihak kelurahan dan kecamatan segera menerbitkan rekomendasi administrasi agar proses relokasi tidak berlarut. Ia juga menekankan pentingnya pendataan berjenjang melalui RT dan RW.
“Data yang akurat menjadi dasar agar relokasi tertib, tidak tumpang tindih, dan tidak menimbulkan polemik,” tambahnya. Ia juga mendorong Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) DKI segera menyiapkan unit rusun bagi warga terdampak.
Sebelumnya, Pemprov DKI mengumumkan dimulainya pembangunan flyover di Jalan Latumenten, tepat di samping Stasiun Grogol, pada Agustus 2025. Proyek ini menjadi bagian strategi jangka panjang pemerintah untuk mengatasi kemacetan dan memperkuat integrasi moda transportasi publik.
Wali Kota Jakarta Barat saat itu, Uus Kuswanto, menjelaskan bahwa flyover Latumenten dirancang multifungsi, termasuk menghadirkan halte Transjakarta di atas struktur jalan layang.
“Flyover ini bukan hanya jalan layang, tapi di atasnya akan disiapkan halte Transjakarta sehingga memiliki fungsi ganda,” ujar Uus dalam konferensi pers, Selasa (15/7/2025).
Flyover sepanjang 380 meter ini merupakan proyek tahun jamak yang ditargetkan rampung pada 2027 dengan anggaran lebih dari Rp300 miliar.
Namun, selama masa konstruksi, arus kendaraan di kawasan padat tersebut dipastikan terdampak signifikan. “Sudah tentu akan terjadi kemacetan pada saat pembangunan, karena mobilitas alat berat dan material,” kata Uus. Ia meminta Dinas Bina Marga melakukan sosialisasi aktif kepada warga untuk meminimalkan dampak di lapangan.
Kepala Subkelompok Perencanaan Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga DKI, Mahendra, menambahkan bahwa flyover Latumenten hanya akan digunakan oleh kendaraan pribadi, sementara angkutan umum seperti Transjakarta, Jaklingko, dan KRL tetap melalui jalur bawah. Pejalan kaki juga akan difasilitasi melalui Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dan skywalk berbayar dengan sistem tap card, seperti yang diterapkan di Bundaran HI.
Berdasarkan pantauan faktamerah.com pada Jumat (12/9/2025) pukul 16.15 WIB, kemacetan tampak mengular dari simpang Grogol di depan Mal Citraland hingga Stasiun Grogol, mencapai sekitar dua kilometer. Lalu lintas semakin tersendat setiap kali Commuter Line dan kereta bandara melintas dengan interval 3–5 menit.
( Awaludin )






