Menguak Kejanggalan Appraisal Tol Semanan–Sunter: Warga Duri Pulo Lawan Nilai Ganti Rugi yang Dinilai Tak Masuk Akal

- Penulis

Senin, 22 Desember 2025 - 18:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA PUSAT | FAKTAMERAH.COM — Penolakan warga terhadap nilai ganti rugi proyek Jalan Tol Semanan–Sunter tak lagi sekadar ekspresi ketidakpuasan. Di balik spanduk-spanduk protes yang dibentangkan warga RW 09 dan RW 12 Kelurahan Duri Pulo, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, tersimpan sejumlah pertanyaan serius mengenai proses appraisal, transparansi penilaian, dan potensi ketimpangan perlakuan terhadap warga terdampak.
Warga menilai hasil appraisal lahan mereka ditetapkan jauh di bawah harga pasar riil tanah Jakarta Pusat—wilayah dengan nilai ekonomi tinggi dan strategis. Namun hingga kini, dasar perhitungan nilai ganti rugi tersebut tak pernah dijelaskan secara terbuka kepada warga.
Aksi pemasangan spanduk penolakan di depan Sekretariat RW, Jalan Setia Kawan Barat, Senin (22/12/2025), menjadi penanda meningkatnya kecurigaan warga terhadap mekanisme yang berjalan. Spanduk-spanduk itu bukan sekadar simbol perlawanan, melainkan bentuk tuntutan atas keterbukaan informasi publik.
Pantauan Faktamerah.com sekitar pukul 23.30 WIB memperlihatkan sejumlah spanduk terbentang jelas di gedung sekretariat RW 09 dan RW 12. Pesan yang disampaikan tegas dan bernada tudingan, seperti:
“Kami Menolak Keras!!! Tidak Sesuai Harga!”
serta
“Harga Appraisal Tol Semanan–Sunter Tidak Sesuai Harga Tanah.”
Di balik tulisan tersebut, warga mempertanyakan sejumlah hal mendasar: siapa penilai independen yang digunakan, data pembanding apa yang dijadikan rujukan, serta mengapa warga tidak dilibatkan atau diberi akses atas dokumen appraisal tersebut.
“Kami tidak menolak pembangunan. Tapi kami berhak tahu bagaimana tanah kami dihitung. Jangan sampai proyek strategis nasional dijadikan tameng untuk menetapkan harga sepihak yang tidak manusiawi,” demikian salah satu pesan protes warga.
Sejumlah warga bahkan menduga adanya ketimpangan antara harga appraisal yang diterapkan di Duri Pulo dengan wilayah lain yang terdampak proyek serupa. Dugaan ini memunculkan pertanyaan lanjutan: apakah standar penilaian diterapkan secara konsisten, atau justru berbeda-beda tanpa alasan yang jelas?
Padahal, berdasarkan prinsip keadilan sosial dan aturan pengadaan tanah untuk kepentingan umum, proses ganti rugi seharusnya menjamin musyawarah, keterbukaan, dan kompensasi yang layak. Jika nilai ganti rugi ditetapkan secara sepihak dan tertutup, proyek infrastruktur justru berisiko memantik konflik sosial baru.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi yang rinci dari pihak terkait mengenai metodologi appraisal maupun alasan perbedaan nilai yang dipersoalkan warga. Ketiadaan klarifikasi ini justru memperkuat kecurigaan publik.
Warga RW 09 dan RW 12 Duri Pulo menegaskan akan terus menyuarakan penolakan dan mendesak audit terbuka serta peninjauan ulang nilai ganti rugi. Mereka menyatakan tidak akan berhenti sebelum proses penetapan harga dilakukan secara adil, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga:  Tanggapi Keluhan Beton Retak Ruas Warung Hasem–Cibogo, Pelaksana Minta Pemeriksaan Teknis Menyeluruh

( Awaludin )

ADVERTISEMENT

google.com, pub-4845885741970817, DIRECT, f08c47fec0942fa0

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel faktamerah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jalan Rusak di Kali Anyar VI Dikeluhkan Warga, Pemprov DKI Diminta Segera Bertindak
GSG Mustika Tigaraksa Rp1,72 Miliar Belum Tuntas, Pengawasan DTRB Dipertanyakan
Proyek SPAL Pabuaran Disorot: Papan Informasi Tak Terpasang, K3 dan Lahan Warga Dipertanyakan
Aliansi Peduli Banten Apresiasi Pembangunan Jalan Cangkudu–Cisoka, Minta Transparansi Proyek APBD
Tanggapi Keluhan Beton Retak Ruas Warung Hasem–Cibogo, Pelaksana Minta Pemeriksaan Teknis Menyeluruh
Aliansi Peduli Banten Soroti Transparansi Proyek Rekonstruksi Jalan Cangkudu–Cisoka Rp12,1 Miliar
Proyek Jembatan Diduga untuk Akses Pabrik, Warga Kampung Rawa Bamban Minta Pemerintah Bertindak Tegas
Pemkab Lebak Bangun Jalan Warunghaseum–Cibogo, Proyek Rp670,7 Juta Ditargetkan Rampung September
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 15:26 WIB

Jalan Rusak di Kali Anyar VI Dikeluhkan Warga, Pemprov DKI Diminta Segera Bertindak

Rabu, 2 September 2026 - 01:35 WIB

GSG Mustika Tigaraksa Rp1,72 Miliar Belum Tuntas, Pengawasan DTRB Dipertanyakan

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:15 WIB

Proyek SPAL Pabuaran Disorot: Papan Informasi Tak Terpasang, K3 dan Lahan Warga Dipertanyakan

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Aliansi Peduli Banten Apresiasi Pembangunan Jalan Cangkudu–Cisoka, Minta Transparansi Proyek APBD

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:50 WIB

Tanggapi Keluhan Beton Retak Ruas Warung Hasem–Cibogo, Pelaksana Minta Pemeriksaan Teknis Menyeluruh

Berita Terbaru